• Reflection

    Sehat, Nikmat Paling Mahal

    Bersyukur. Satu kata bermakna ajakan yang mempunyai nilai teramat dalam. Tak tergerus masa untuk selalu didengungkan. Mengapa? Karena ia sifatnya divine, ada sangkut-pautnya dengan Tuhan. Ya, teramat banyak nikmat yang sudah dianugerahkan kepada kita oleh Allah yang Maha Penyayang. Tak perlu kita menyebut satu per satu karena kita tak akan sanggup menghitungnya. Yang harus kita lakukan adalah mensyukurinya. Kira-kira apa ya nikmat yang paling harus kita syukuri? Paling tidak yang ada relevansi langsung dengan langkah kehidupan kita hari demi hari? Bagaimana kalau HARTA? Hmm, tidak salah. Harta termasuk nikmat yang harus disyukuri. Dengan harta, kita bisa berjuang di jalan-Nya. Dengan harta, kita bisa membantu sesama. Shodaqoh, infaq, zakat, dan qurban…

  • Family Time

    Kapal Pecahku, Surgaku

    Rumahku surgaku. Siapa yang tidak suka mempunyai rumah yang selalu bersih? Semua tentu suka. Rumah dengan lantai yang bersih dan mengkilat, perabotan yang tertata rapi, dinding yang bersih dari noda, bebas semut dan kecoa, ruangan harum. Tak perlu rumah besar. Rumah tipe kecil pun jika memenuhi kondisi tadi sudah pantas dikategorikan rumahku surgaku. Itu idealnya. Apakah realitasnya memang selalu seperti itu ya? Nah, ini dia kenyataannya. Di dalam keluarga umumnya ada anak-anak, sang buah hati. Apakah keberadaan mereka selalu berbanding lurus dengan keadaan rumah yang selalu bersih? Ternyata tidak demikian. Setidaknya itu terjadi pada saya. Saya suka melihat rumah saya bersih. Meskipun punya pembantu rumah tangga, sering saya meraih sapu…

  • Kids' Workout

    Bantu Anak Songsong Sekolah Baru

    Liburan sekolah usai. Tahun ajaran baru telah tiba. Bagi semua siswa, liburan kemarin adalah saat bersenang-senang setelah selama satu tahun menjalani satu level pendidikan. Bagi mereka, liburan adalah liburan. Soal tantangan di kelas atau level baru nanti, mereka belum memikirkannya. Baru setelah liburan berakhir, mereka mulai cemas dengan suasana baru yang harus dihadapi. Mulai dari perasaan takut jika tidak bisa beradaptasi dengan gedung baru, teman-teman baru, bahkan mata pelajaran baru. Juga, perasaan kuatir tidak akan mendapatkan teman-teman yang kompak seperti di kelasnya dahulu. Sebagai orang tua, kita senantiasa harus membimbing anak-anak kita yang tengah mengalami masa-masa transisi dengan sabar dan penuh dukungan. Kita bisa mendukung buah hati kita dengan langkah yang tepat. 1. Ikutilah tur yang diadakan sekolah Tur bermanfaat untuk mengenal seluk-beluk sekolah sebelum tahun ajaran dimulai. Ajak serta anak supaya dia bisa berjumpa dengan guru-guru, mendengarkan penjelasan tentang kegiatan belajar, dan belajar karakter sekolah. Setidaknya, anak tidak kesulitan menemukan ruang loker, perpustakaan, atau kantin. 2. Jumpai guru pembimbing Sebagian besar sekolah menyediakan konselor atau guru pembimbing untuk setiap siswa, yang membantu mengamati perkembangan siswa sejak memasuki tahun ajaran sekolah dan berperan sebagai mentor, pemecah masalah, dan penasihat hukum. 3. Bantu anak meredam kecemasan Perasaan cemas sangat wajar apabila anak akan beranjak ke suatu babak kehidupan baru. Pastikan kita mengawasi asupan gizinya, tidak terlambat makan, olah raga teratur, dan cukup tidur. Kita juga bisa mengajaknya bersama-sama menarik napas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan. Simple but so meaningful indeed. 4. Mengingatkan pencapaian Berikan anak motivasi untuk meluapkan pendapatnya tentang cita-cita dan harapan yang ingin diraih dari bangku sekolah. Jangan terkesan menginterogasi dan berikan saran hanya jika anak menanyakannya. Tugas kita hanyalah mendengarkannya sampai anak menyadari pentingnya proses transisi. 5. Bantu anak bersosialisasi Jika anak mengatakan bahwa dirinya tidak punya teman, mari bantu dia menemukan cara terbaik untuk mendekatkan diri kepada teman-teman kelasnya. Misalnya dimulai dengan mengajak salah satu temannya untuk bermain bola basket bersama di akhir pekan. Semoga bermanfaat… Sumber: Best Life Indonesia Juni 2013

  • Dad's Notes

    Mudik Buat Apa Sih?

    Selamat Idul Fitri ‘tuk teman-teman semua. Mohon maaf lahir dan batin. Sori saya baru mengucapkannya sekarang. Itu karena pekan lalu waktu saya tersita habis untuk mudik ke kampung halaman mertua saya di Magetan, Jawa Timur. Kegiatan blogging pun terpaksa saya liburkan selama saya berada di desa. Seperti kebanyakan anggota masyarakat yang merayakan Lebaran, saya pun turut serta dalam suasana hiruk-pikuk mudik. Suasana yang saya inginkan, mengingat dahulu saya tidak pernah merasakan mudik. Mengapa? Karena saya asli ‘orang kota’ yang tak punya ‘desa’. Nah, setelah saya menikah dengan orang yang punya ‘desa’, kini saya jadi bisa merasakan mudik. Setelah bisa merasakan sendiri seperti apa mudik itu, saya kini tahu suka dukanya.…

  • Reflection

    Demam Sepak Bola dan Introspeksi

    Waktu terasa begitu cepat berlari. Tak terasa, Piala Eropa edisi 2016 akan segera berakhir dalam hitungan hari. Padahal pergelaran Piala Eropa yang lalu-lalu masih segar dalam ingatan. Bagi penggemar bola seperti saya –dan tentu juga semua bolamania-, pergelaran Piala Eropa sangat dinantikan, selain Piala Dunia. Perhelatan pesta sepak bola terbesar di Eropa yang demamnya dirasakan oleh seluruh dunia itu tak ubahnya sebuah rekreasi, liburan, dan hiburan menyenangkan dan murah meriah. Satu hal yang jelas, apa yang dirasakan para penggemar bola cuma satu, yaitu euforia dan demam sepak bola yang luar biasa. Menikmati atmosfer pertandingan, aksi pemain-pemain top, aksi para fans dengan segala atributnya, pernak-pernik merchandise yang menggemaskan, bahkan desain kostum…

  • Dad's Notes

    Demi Waktu, Segerakanlah

    Dari waktu, lahirlah kehidupan. Dari waktu, seseorang dibekap kerugian. Dari waktu pula, berseliweran antara kemapanan dan kemalangan. Karena itu, waktu ibarat sebilah pedang. Ia bisa menyebabkan kematian. Di saat yang lain, ia bisa memberi banyak hal. Berikut sharing dari Ust. Arifin Ilham, semoga bisa bermanfaat bagi saya dan siapa pun yang membutuhkannya. Sungguh beruntung mereka yang bisa menjadikan waktunya selalu lebih baik dari waktu-waktu sebelumnya. Jadi, sangat baik apabila kita mengisi lembar hidup kita yang masih tersisa dengan amal-amal terbaik. Waktu yang telah berlalu tak mungkin kembali. Pun, waktu yang akan datang tak mungkin ditahan. Untuk itu, kita mesti segera melakukan amalan berikut, tanpa ada niat menundanya. Taubat Tidak ada…

  • Dad's Notes

    Menghitung Zakat Profesi

    Zakat penghasilan atau zakat profesi (al-maal al-mustafad) adalah zakat yang dikenakan pada setiap pekerjaan atau keahlian profesional tertentu, baik yang dilakukan sendirian maupun bersama dengan orang atau lembaga lain, yang mendatangkan penghasilan (uang) halal yang memenuhi nisab (batas minimum untuk wajib zakat) dan telah mencapai masa satu tahun (haul). Contohnya adalah pejabat, pegawai negeri atau swasta, dokter, konsultan, advokat, dosen, makelar, seniman, dan sejenisnya. Ketentuannya adalah sebagai berikut: Mencapai nisab, setara dengan 85 gr emas atau 520 kg beras (misal harga emas per gram adalah Rp 325.000, maka nisabnya adalah 85 gr x Rp 325.000 = Rp 27.625.000) Kadar zakatnya 2,5 persen Dibayarkan setiap kali menerima penghasilan (gaji) atau di…

  • Dad's Notes

    Menyikapi Euforia THR

    Puasa Ramadan sudah berjalan setengah bulan. Lebaran tinggal dua minggu lagi. Artinya, banyak di antara kita sudah menerima tunjangan hari raya (THR). Termasuk saya. Menjelang lebaran, THR memang menjadi hal yang paling dinanti oleh masyarakat kita. THR bagaikan pelengkap sempurna dalam memungkasi perjalanan ramadan selama sebulan penuh. Semua bersuka cita. Di saat pertengahan Ramadan dianggap sudah mulai menyurutkan stamina, kehadiran THR dirasa menjadi seteguk air segar yang kembali membuat bersemangat dalam berpuasa (Wah, semangat puasa kok diukur dari THR ya?) Coba lihat iklan sirup yang sering ditayangkan di televisi beberapa waktu lalu. Para pegawai restoran begitu ceria usai menerima uang THR mereka. ”THR, mudik… THR, mudik…” Memang itulah potret kita…

  • Dad's Notes

    Memperbaiki Ramadan

    Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan menyambut lagi bulan Ramadan, di tahun ini. Namun terus terang, Ramadan demi Ramadan yang telah saya lalui selama ini belum pernah menjadi Ramadan yang ‘sempurna’ bagi saya. Godaan masih sering menjadi ‘pemenang’ dibandingkan niat saya menimba kebaikan yang sebanyak-banyaknya di bulan yang sangat mulia ini. Terdorong semangat memperbaiki Ramadan saya di tahun ini, saya pun mencoba ‘mencari petunjuk’ untuk itu. Alhamdulillah, dari sebuah buku panduan Ramadan yang diterbitkan oleh sebuah lembaga amil zakat nasional, saya menemukan beberapa kiat sukses Ramadan. Kiat-kiat yang simpel, tapi belum tentu simpel pada praktiknya. Daripada saya simpan sendiri, lebih baik saya share saja di blog saya ini. Bagi anda yang…

  • Dad's Notes

    Dua Generasi, Zaman Berubah

    Saya teringat masa bertahun-tahun yang lalu saat saya sedang menonton televisi bersama almarhum bapak saya. Saat itu kami sedang menonton acara olah raga yang dipandu oleh rapper Iwa K. Melihat gaya Iwa K, bapak saya protes. “Apa-apaan itu. Coba lihat, membawakan acara kok petingkrangan (gaya sesuka hati). Kaki pake naik sofa segala,” begitu kata bapak saya. Saya pikir wajar kalau bapak saya protes. Yang beliau tahu, seorang host sebuah acara di televisi selalu berpenampilan formal dan parlente, dengan attitude yang dijaga. Contohnya: Koes Hendratmo, Kris Biantoro, Kang Aom, dan sebagainya. Hmm, TVRI banget ya 🙂 Tapi kini, para host di acara televisi maupun off-air didominasi anak-anak muda yang bergaya enerjik,…