Belajar dari Seorang Pemberani Sejati

Posted by
Foto: nndb.com
Foto: nndb.com

Pekan ini para penggemar film layar lebar disuguhi sebuah film yang berjudul “Sully” yang dibintangi oleh aktor kawakan Tom Hanks dengan background seorang pilot yang sudah berumur dan pesawat terbang di air. Film ini dibuat berdasarkan kisah nyata yang dialami seorang pilot bernama Chesley Sullenberger dan menjadi sebuah inspirasi yang luar biasa. Karena itu, saya angkat lagi kisahnya yang pernah saya tulis di blog saya yang terdahulu.

Sullenberger yang akrab dipanggil Sully adalah pilot pesawat Airbus 320 milik maskapai penerbangan US Airways, Amerika Serikat (AS). Dia telah pensiun pada 2010. Satu tahun sebelumnya, pria yang akrab dipanggil Sully itu melakukan tindakan luar biasa yang tidak hanya menyelamatkan nyawa 150 penumpangnya, tetapi juga warga kota New York.

Sebuah keteladanan yang nyata dan layak ditiru oleh siapa saja. Ini soal KEBERANIAN, KEYAKINAN, KETENANGAN, dan PROFESIONALISME. Betapa seorang pria dihadapkan pada satu kondisi genting dengan konsekuensi pilihan: selamat atau mati bersama-sama. Dia hanya punya waktu beberapa DETIK untuk membuat satu keputusan penting dan tepat. Dan dia melakukannya! Hebatnya, dia sama sekali tidak merasa hebat telah melakukan sesuatu yang hebat. Satu hal yang dianggapnya sebagai sesuatu yang sudah seharusnya dia lakukan.

Ini kisahnya.

Tanggal 15 Januari 2009, sore pukul 14.50. Udara membeku karena saat itu masih musim dingin. Sully baru saja mengangkat pesawatnya ke angkasa kota New York, meninggalkan Bandara La Guardia menuju Charlotte di negara bagian North Carolina. Di sore yang tenang itu dia menerbangkan pesawat dengan nomor penerbangan 1549 itu dengan tenang pula. Tentu saja. Pria berambut berwarna keperakan yang kala itu berusia 57 tahun itu sudah bekerja di US Airways selama 29 tahun. Jam terbangnya pun sudah tinggi, 19.000 jam. Selain pilot, dia adalah instruktur evakuasi cepat dan tepat dalam situasi darurat.

Foto: vanityfair.com
Foto: vanityfair.com

Tiba-tiba, tanpa disangka-sangka, ketenangan sore itu berubah menjadi drama yang mengerikan. Baru mengudara 90 detik, terdengar letupan. Ternyata, serombongan angsa liar yang sedang terbang di angkasa menabrak pesawat dan masuk ke dalam mesin. Akibatnya sungguh fatal, kedua mesin pesawat mati. Bayangkan, pesawat seberat 50 ton berada di ketinggian 3.200 kaki (1.000 m) dengan mesin mati! Nasib semua penumpang sungguh berada di tangan sang pilot.

Di sinilah kekuatan mental sang pemberani bicara. Dengan tenang, Sully mengambil alih kemudi dari co-pilot. Sambil berusaha menguasai pesawat yang sudah ‘sunyi senyap’ itu agar tidak menukik ke bumi, mantan pilot pesawat tempur itu pun memetakan situasi di ketinggian, mencari tempat terbaik untuk melakukan pendaratan darurat.

Sungguh tak banyak pilihan. Posisi pesawat persis di atas kota New York. Sully melihat lapangan terbang Teterboro, namun dia yakin tak mampu mencapainya, karena ketinggian pesawat kini tinggal 1.600 kaki. Lapangan luas? Tak tampak. Mendarat di tengah kota? Mustahil. Kota sangat ramai, justru korban akan semakin banyak. Diburu waktu yang hanya tersisa dalam hitungan detik, Sully akhirnya mengambil keputusan: mendarat darurat di Sungai Hudson, yang memisahkan negara bagian New York dan New Jersey.

Pesawat pun meluncur ke arah sungai yang sangat luas itu. Saat paling mendebarkan tiba. Batas antara hidup dan mati tampak jelas. Jika mendarat tak sempurna di air, pesawat akan terpelanting dan hancur berkeping-keping. Tapi… pesawat mendarat mulus di air dengan kecepatan 200 km/ jam.

Pendaratan darurat sukses. Tapi, masalah belum berakhir. Tombol pendaratan darurat di air lupa diaktifkan, sehingga semua lubang di pesawat tidak tertutup. Akibatnya, air pun menyeruak masuk ke pesawat. Ya, pesawat akan tenggelam di tengah sungai yang luas dan airnya sedingin es. Beruntung, koordinasi telah dilakukan. Polisi dan tim penyelamat segera tiba di TKP. Kapal penyelamat dan kapal komersial yang sedang berlayar di Sungai Hudson dikerahkan untuk mengevakuasi penumpang pesawat.

Setelah semua penumpang berhasil dievakuasi, Sullenberger masih berada di dalam pesawat yang sudah hampir tenggelam itu. Ia masih menyempatkan diri dua kali menyusuri lorong pesawat untuk memastikan tak ada penumpang yang tertinggal. Setelah itu baru dia keluar untuk dievakuasi.

plane on hudson
Foto: vanityfair.com

Tak ayal, tindakan heroiknya itu mengundang simpati semua orang. Walikota New York (saat itu), Michael Bloomberg, memberinya selamat secara langsung. Tak kurang, Presiden George Bush (saat itu) dan Barack Obama (yang dilantik seminggu setelah kejadian itu) pun meneleponnya untuk memberikan apresiasi.

Saya yakin bukan sanjungan yang dicari Sully. Dia hanya berpikir untuk melakukan sesuatu yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Dan dia bisa melakukannya dengan begitu “biasa”. Bahkan, ketika semua orang sedang membicarakan kehebatannya, dia malah bilang, “Saya cuma ingin segera menelepon seseorang untuk membatalkan janji yang tidak dapat saya penuhi malam ini.”

#sully #chesleysullenberger #hudsonriver

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.