Demam Sepak Bola dan Introspeksi

Posted by

Waktu terasa begitu cepat berlari. Tak terasa, Piala Eropa edisi 2016 akan segera berakhir dalam hitungan hari. Padahal pergelaran Piala Eropa yang lalu-lalu masih segar dalam ingatan. Bagi penggemar bola seperti saya –dan tentu juga semua bolamania-, pergelaran Piala Eropa sangat dinantikan, selain Piala Dunia. Perhelatan pesta sepak bola terbesar di Eropa yang demamnya dirasakan oleh seluruh dunia itu tak ubahnya sebuah rekreasi, liburan, dan hiburan menyenangkan dan murah meriah.

Satu hal yang jelas, apa yang dirasakan para penggemar bola cuma satu, yaitu euforia dan demam sepak bola yang luar biasa. Menikmati atmosfer pertandingan, aksi pemain-pemain top, aksi para fans dengan segala atributnya, pernak-pernik merchandise yang menggemaskan, bahkan desain kostum tim-tim nasional peserta turnamen merupakan ‘obat stres’ yang cukup ampuh selama satu bulan perhelatan Piala Eropa. Sampai-sampai, ketika turnamen itu sudah sampai di babak akhir, ada yang nyeletuk, “Yah, sekarang kembali lagi ke dunia nyata.”

Bagaimana dengan saya? Sudah tentu saya merasakan hal yang sama dengan para gibol lainnya, meskipun hanya dengan menonton televisi, membaca berita olah raga di koran dan media online, serta membahasnya dengan teman-teman saya sesama gibol. Tapi tahu tidak, saya selalu deg-degan setiap kali menyongsong perhelatan Piala Eropa. Lho kok?

Begini. Setiap kali ‘takdir’ itu datang -maksudnya ya Piala Eropa, hehehe- yang saya rasakan bukan semata-mata euforia sepak bola, tapi juga hal-hal lain di luar sepak bola. Yakni: tindak-tanduk dan perkembangan diri saya di setiap edisi Piala Eropa yang mau tak mau pasti hadir ‘menyapa’ kita.

Tegasnya, setiap edisi Piala Eropa bagaikan momen yang merekam setiap tahap perjalanan hidup saya. Saat Piala Eropa 1988 di Jerman Barat, yang saya ingat bukan cuma aksi trio sang juara Belanda (Ruud Gullit, Marco Van Basten, dan Frank Rijkaard) yang legendaris itu, tapi juga betapa kala itu saya masih anak SD yang sedang bersiap masuk SMP dan masih menikmati indahnya dunia anak-anak.

Saat Piala Eropa 1996 di Inggris, yang saya ingat bukan cuma cemerlangnya stiker Jerman Oliver Bierhoff yang mengantarkan negaranya menjadi juara. Tapi saya juga mengingat betapa di tahun itu saya sudah menjadi seorang mahasiswa yang merupakan impian setiap orang tua di masa itu.

Saat Piala Eropa 2004 di Portugal, yang saya ingat bukan cuma bagaimana tim pupuk bawang Yunani menghancurkan mimpi tuan rumah Portugal di final. Tapi saat turnamen itu berlangsung, saya sedang melangsungkan pertunangan dengan calon istri saya. Wow, berarti saya sudah menikah tuh.

Otomatis, di Piala Eropa 2016 di Prancis ini bakal turut merekam perjalanan hidup saya sekarang ini. Itulah yang saya maksud membuat saya deg-degan. Dengan semua ‘rekaman’ itu, saya jadi tersadar untuk me-recall apa-apa yang sudah saya lakukan di masa lalu. Apakah telah ada peningkatan kualitas diri yang signifikan atau belum.

Jadi? Yah, bolehlah saya ikut menikmati suka cita Piala Eropa. Tapi saya tidak boleh naif bahwa ternyata usia saya terus bertambah. Menikmati Piala Eropa sambil introspeksi. Sesungguhnya, hingar-bingar Piala Eropa tak ubahnya senda-gurau hidup di dunia fana ini…

(Visited 3 times, 1 visits today)

6 comments

  1. My spouse and i ended up being very glad that Raymond managed to finish off his studies through your precious recommendations he grabbed in your weblog. It is now and again perplexing to simply possibly be offering key points which often some others have been selling. We really discover we have got the writer to appreciate for that. All of the explanations you have made, the simple site navigation, the relationships you can give support to create – it’s got most excellent, and it is making our son and the family reason why that issue is cool, which is quite essential. Thanks for all the pieces!

  2. I intended to send you that very small note just to give thanks as before just for the amazing ideas you’ve contributed above. It has been simply pretty generous of you to convey unhampered what exactly a lot of people might have sold as an electronic book to make some money on their own, and in particular seeing that you might well have done it if you decided. The basics in addition acted as a great way to realize that other people online have a similar desire just like my personal own to realize more with regards to this problem. I believe there are several more fun situations ahead for many who read carefully your website.

  3. My spouse and i were fulfilled that Raymond managed to conclude his basic research because of the precious recommendations he obtained through the web site. It’s not at all simplistic just to choose to be offering concepts people have been selling. And now we see we now have the writer to appreciate for that. All the illustrations you’ve made, the simple blog menu, the friendships you will help to promote – it is everything astonishing, and it’s helping our son and the family understand that subject is excellent, and that is unbelievably indispensable. Many thanks for all!

  4. Thank you so much for giving everyone an extraordinarily breathtaking chance to read in detail from this blog. It’s usually so fantastic and full of amusement for me and my office colleagues to visit your site nearly thrice weekly to see the latest issues you have got. Of course, we are usually satisfied considering the wonderful creative ideas you give. Certain 3 points in this posting are ultimately the most impressive we have all had.

  5. You have some really good articles and I feel I would be a good asset. I’d really like to write some articles for your blog in exchange for a link back to mine. Please send me an email if interested. Thank you!

Leave a Reply

Your email address will not be published.