Dua Generasi, Zaman Berubah

Posted by

Saya teringat masa bertahun-tahun yang lalu saat saya sedang menonton televisi bersama almarhum bapak saya. Saat itu kami sedang menonton acara olah raga yang dipandu oleh rapper Iwa K. Melihat gaya Iwa K, bapak saya protes. “Apa-apaan itu. Coba lihat, membawakan acara kok petingkrangan (gaya sesuka hati). Kaki pake naik sofa segala,” begitu kata bapak saya.

Saya pikir wajar kalau bapak saya protes. Yang beliau tahu, seorang host sebuah acara di televisi selalu berpenampilan formal dan parlente, dengan attitude yang dijaga. Contohnya: Koes Hendratmo, Kris Biantoro, Kang Aom, dan sebagainya. Hmm, TVRI banget ya 🙂

Tapi kini, para host di acara televisi maupun off-air didominasi anak-anak muda yang bergaya enerjik, cuek, dan semau gue. Contohnya: Okky Lukman, Raffi Ahmad, Ruben Onsu, dan lainnya. Gaya seperti mereka terbukti laris di setiap acara di masa kini.

Saya juga teringat saat saya bergabung dengan sebuah klub sepak bola kala masih kelas 6 SD. Klub saya adalah Warna Agung Sidoarjo. Saya masih ingat saat mengenakan kostum berwarna ungu dengan nomor punggung 4 kebanggaan saya. Sebagai mantan pemain bola, bapak sering mewanti-wanti saya supaya bermain bola dengan benar, termasuk menghindari terkena hukuman kartu jika tidak terpaksa. Kartu kuning dan merah tampaknya benar-benar berfungsi sebagai punishment pada permainan sepak bola, waktu itu.

Tapi kini, pemain sepak bola justru sengaja mencari kartu kuning atau merah sebagai bagian dari strategi. Tujuannya agar ia absen di pertandingan berikutnya untuk menyimpan energi. Dengan demikian pemain itu bisa tampil fresh pada pertandingan berikutnya yang memang dinantikan olehnya. Biasanya, itu pertandingan big match yang mempunyai gengsi tinggi.

Tak tanggung-tanggung, yang memberikan ‘teladan’ untuk hal ini justru pemain level dunia. Adalah Daniel Alves dari klub Barcelona dan Xabi Alonso dari Real Madrid, beberapa tahun lalu. Kedua pemain itu disinyalir sengaja mencari kartu kuning agar absen di pertandingan selanjutnya, akibat akumulasi kartu. Alves dan Alonso akhirnya bisa tampil di pertandingan berikutnya yang mempertemukan kedua klub raksasa Spanyol itu, dalam pertandingan bertajuk el classico.

Apa yang bisa saya tarik dari dua contoh kasus di atas? Saya merasakan betapa zaman sudah berubah hanya berselang antara dua generasi yang berurutan. Perubahan yang terjadi sangat drastis dan signifikan ‘hanya’ dalam kurun 35 tahun (selisih umur saya dan bapak saya). Saya mencoba berandai-andai ke depan. Selisih umur saya dengan anak saya 30 tahun. Saya tak bisa membayangkan bagaimana wajah dunia ini tiga dekade mendatang. Pasti lebih sophisticated dan juga complicated. Saya berharap kami bisa menghadapi masa depan dengan sebaik-baiknya.

(Pikiran-pikiran ini berseliweran di kepala saya saat Sabtu malam kemarin saya merenung tentang masa lalu yang indah yang telah saya lalui bersama almarhum bapak saya)

7 comments

  1. Iya mas, Aku sendiri juga merasakannya malahan 1-2 tahun saja.. Dulu di kampung saya banyak anak – anak yang main layang – layang di sawah, main sepakbola bareng, badminton. Tapi sekarang anak anak kecil pada main coc main hp semua yang paling parah lagi kalo nggak salah sekitar 1 minggu yang lalu ada anak sd di kampung ku yang nyuri uang kas sekolah cuman buat beli cash game

  2. You could certainly see your enthusiasm within the paintings you write. The world hopes for even more passionate writers such as you who aren’t afraid to say how they believe. Always go after your heart.

Leave a Reply

Your email address will not be published.