Dad's Notes

Internet di bawah Kendali Anak-anak

Zaman berubah. Sejak internet mulai dikenal masyarakat secara luas pada akhir 1990-an, akselerasinya semakin ke mana-mana, tak terbendung. Kini, jangan ditanya lagi. Dinamika dan detail perkembangan internet sudah merasuk ke setiap sendi kehidupan masyarakat. Apalagi dengan hadirnya teknologi gadget yang membuat dunia berada dalam genggaman.

Bagi mereka yang saat ini berada dalam range usia produktif, katakanlah usia 30-an dan 40-an, internet bisa dikatakan melengkapi kebutuhan mereka dalam beraktifitas, berkreasi, dan berproduksi. Dengan ‘kematangan’ pola pikir yang dimiliki, internet mereka olah dan ajak berdampingan untuk dijadikan supporting tool bagi interest mereka.

Tapi bagi anak-anak, katakanlah mereka yang berusia di bawah 18 tahun, lain lagi. Mereka yang tengah berada dalam masa pertumbuhan sudah dihadapkan dan mau tak mau berkenalan dengan internet. Apa implikasinya? Jelas, mereka tumbuh tidak hanya dibesarkan oleh orang tua mereka, tapi juga ada ‘babysitter’ yang bernama Internet itu tadi.

Dahsyatnya, ‘babysitter’ yang satu ini tidak hanya ‘menyuapi’ anak-anak secara top-down, tetapi anak-anak yang justru sangat berpotensi untuk ‘me-ngapa-ngapain babysitter’ itu secara bottom-up. Pendek kata, inilah masa-masa di mana anak-anak akan mengendalikan internet, untuk ke masa depan.

Ada beberapa hal utama yang membuat bagaimana mulai dekade kedua di abad ini ini anak-anak akan berperan penting dalam mengendalikan internet dan teknologi digital, seperti yang disuarakan oleh Katya Andresen, CEO perusahaan teknologi dan media edukasi Cricket Media:

Anak-anak berkreasi
Kebanyakan orang dewasa adalah pengguna internet yang pasif. Hanya persentase kecil yang secara aktif betul-betul berinteraksi dan menjadi kreator dalam komunitas internet, seperti menulis blog, membuat video, dan berkomunitas. Tapi anak-anak, mereka tak ragu menggunakan teknologi untuk menciptakan sesuatu, baik secara online maupun offline. Mereka menikmati, ingin tahu, kreatif, dan tak takut membuat sesuatu yang baru untuk di-share.

Dalam menggunakan media sosial, misalnya, anak-anak melihat dunia maya tidak semata-mata sesuatu yang mereka gunakan secara pasif untuk mereka nikmati, tapi sebagai sesuatu yang dapat mereka bangun untuk berhubungan dengan orang lain. Anak-anak tidak membangun paradigma “Lihatlah aku”. Tetapi “Lihatlah apa yang aku buat”.

Anak-anak berkolaborasi
Anak-anak secara alamiah menggunakan teknologi untuk berkolaborasi dan menciptakan co-creation, tidak cuma berkomunikasi. Nantinya, anak-anak akan menggunakan aplikasi-aplikasi seperti Facetime dan Quizlet untuk belajar bersama teman-temannya untuk menghadapi ujian di sekolah atau bahkan membuat panduan bersama-sama untuk digunakan dalam kelas mereka dengan membuat catatan dan detail pelajaran dalam aplikasi-aplikasi tadi. “Lihatlah aku” kini menjadi “Mari menciptakan sesuatu bersamaku”.

Anak-anak saling mengajari (dan juga mengajari kita) bagaimana belajar secara online
Anak-anak menggunakan teknologi dalam suatu siklus belajar yang efektif. Pertama, mereka mencoba sesuatu sendirian dengan cara mereka sendiri. Pastinya ada trial and error, praktik, dan gagal. Begitu seorang anak mulai belajar untuk menguasai sesuatu, dia ingin menunjukkan dan mengajari tentang apa yang sudah dipelajarinya. Apabila hal ini dilakukan dalam sebuah komunitas, akan ada lompatan feedback yang dahsyat di mana pembelajaran, penguasaan, sharing, dan pertumbuhan kolektif terjadi di sana.

Itulah yang sangat mungkin mengisi dunia anak-anak di masa mendatang. Bagaimanapun, tetap harus ada counter dan filter. Jangan sampai sisi negatif teknologi internet dan digital meracuni, mengungkung, atau bahkan melumat anak-anak kita nanti. Kita harus ingat bahwa anak-anak adalah masa depan.

 

Ingin membaca artikel ini dalam English version, klik di sini.

A husband. A dad. A bank worker. Loves to share in writing about the art of being a dad for the kids.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: