Jogging = Investasi

Posted by

Permasalahan paling umum yang paling sering dirasakan pegawai kantoran adalah kurang berolah raga. Sama seperti saya. Rutinitas kerja dari berangkat pagi dan pulang malam membuat badan sering terasa lesu. Terasa sekali peredaran darah di tubuh ini tidak lancar. Badan lesu melulu.

Saya tahu kalau solusinya adalah olah raga. Cukup jogging, that simple. Cuma bondho sepatu kets, lalu lari ringan keliling komplek perumahan barang setengah jam atau lebih sedikit. Badan berkeringat, jantung dan organ tubuh lainnya tergerak, dan peredaran darah jadi lancar. Jika dilakukan rutin -paling tidak seminggu sekali tiap akhir pekan kalau sibuk kerja jadi alasan- akan berefek cukup baik bagi kesehatan, daripada tidak berolah raga sama sekali.

Itu teorinya. Praktiknya, seringkali kenyataan tak semanis rencana. Alasannya, apalagi kalau bukan malas. Saya selalu mencari pembenaran. Yang semalam tidur terlalu larut sehingga pagi masih mengantuk, kek. Juga, saya selalu mencari kambing hitam. Yang hujan, kek. Ujung-ujungnya tak jadi jogging. Setelah itu saya baru menyesal kalau baru saja kembali melewatkan akhir pekan dengan tidak berolah raga.

Padahal, tahun lalu saya membeli sepatu running merek kesukaan saya. Tujuannya supaya giat berolah raga. Tapi sepasang sepatu baru itu tetap nganggur. Cuma pindah tempat saja, dari etalase toko ke rak sepatu di rumah saya. Godaan kemalasan begitu sulit dilawan meski kelihatan sepele. Tiga weekend pun kembali saya lewatkan dengan penyesalan setelahnya.

Namun, hal tak diduga sering menciptakan hasil berbeda. Minggu pagi kemarin -saat saya sudah mengambinghitamkan acara kantor sepanjang hari Sabtu yang membuat saya tidak bisa lari pagi- saya tiba-tiba dihampiri Attar, anak bungsu saya. Bocah berusia hampir 6 tahun itu ingin bersepeda berkeliling perumahan dengan ditemani saya. “Aku naek sepeda, Ayah lari-lari,” ucapnya.

Saya yang sudah memasang PW (posisi wuenak) di depan televisi pada pukul 6 pagi itu pun menolak. Tapi Attar merengek dan terus memaksa saya menemaninya. Sejurus kemudian, sontak saya bangkit dari peraduan. Saya spontan berpikir, inilah saatnya. Apakah permintaan anak saya tak cukup kuat mengalahkan kemalasan saya kali ini? Dan saya pun meraih sepasang sepatu yang tampaknya sudah bosan menunggu untuk dipakai itu.

At least it worked. Semoga ini menjadi penyemangat untuk minggu-minggu berikutnya. Saya sih sebetulnya selalu teringat akan pesan tentang “10 Perbuatan Baik” yang pernah ditayangkan salah satu stasiun televisi. Satu di antara sepuluh perbuatan baik itu adalah: “Berolahragalah sesibuk apapun kita”.

Meskipun saya memperoleh fasilitas asuransi kesehatan dari kantor tempat saya bekerja, alangkah jauh lebih baik jika kita memprioritaskan upaya preventif daripada kuratif. Jadi, rasanya tak salah jika saya menyebut berolah raga adalah investasi untuk kesehatan kita.

Saya pilih jogging karena MURAH MERIAH.

English version

Leave a Reply

Your email address will not be published.