Kapal Pecahku, Surgaku

Posted by

Rumahku surgaku. Siapa yang tidak suka mempunyai rumah yang selalu bersih? Semua tentu suka. Rumah dengan lantai yang bersih dan mengkilat, perabotan yang tertata rapi, dinding yang bersih dari noda, bebas semut dan kecoa, ruangan harum. Tak perlu rumah besar. Rumah tipe kecil pun jika memenuhi kondisi tadi sudah pantas dikategorikan rumahku surgaku.

Itu idealnya. Apakah realitasnya memang selalu seperti itu ya?

Nah, ini dia kenyataannya. Di dalam keluarga umumnya ada anak-anak, sang buah hati. Apakah keberadaan mereka selalu berbanding lurus dengan keadaan rumah yang selalu bersih? Ternyata tidak demikian. Setidaknya itu terjadi pada saya.

Saya suka melihat rumah saya bersih. Meskipun punya pembantu rumah tangga, sering saya meraih sapu untuk membersihkan sudut ruangan yang masih ada debu atau sampah yang tak terangkat. Percikan air di lantai pun tak luput dari radar saya. Langsung saya pesut dengan kain pel hingga kering.

Tapi… kondisi rumah yang kinclong itu bisa mendadak berubah menjadi seperti kapal pecah begitu kedua anak saya ada di rumah. Entah apakah mereka pulang dari sekolah atau dari bermain di luar rumah. Bercak telapak kaki kotor langsung ‘menghiasi’ lantai. Keluar dari kamar mandi setelah mencuci kaki atau mandi, mereka meninggalkan banyak percikan air di setiap jengkal lantai. Akibatnya, salah satu dari mereka jatuh terpeleset. Namun, itu tak juga membuat kapok.

Belum lagi saat kedua buah hati saya itu mulai berkreasi dengan kertas, gunting, lem, dan peralatan lainnya. Yang namanya potongan kertas kecil-kecil berserakan di mana-mana. Bekas lem menempel di lantai, dinding, dan sofa. Bahkan, gunting tiba-tiba saja ada di atas kasur atau di bawah bantal. Bisa terbayang kan bahayanya jika tertusuk?

Sudah cukup? Belum. Saat saya asyik nonton televisi atau membaca koran di sofa atau di kasur, sontak badan saya terasa sakit serasa digigit serangga. Ternyata, satu pasukan semut merah telah menjajah sofa atau kasur tempat saya duduk. Mereka berpesta pora mengerubungi remah-remah kue atau sisa makanan yang terselip atau tersebar di sana. Siapa ya pelakunya? Tanpa melalui azas praduga tak bersalah, saya langsung menuding kedua bocah itu, hehehe.

…….

Saya sedang duduk di sofa. Memandangi lantai rumah yang bersih, tidak lengket, tanpa debu, dan tanpa percikan air. Semua benda berada di tempatnya, tertata rapi. Kondisi rumah yang ideal dan saya sukai. Anak-anak saya sedang menghabiskan liburan pascalebaran di rumah kakek dan nenek mereka di desa, ditemani bunda mereka. Rumah selalu bersih karena setiap hari selalu di-maintenance oleh pembantu paruh waktu kami.

Satu hari, dua hari, tiga hari, empat hari, dan lima hari berlalu. Rumah tetap bersih. Namun saya mulai merindukan kedua bocah saya. Ya, saya merindukan kehebohan yang sering mereka ciptakan dengan berbagai kreatifitas dan keaktifan di dalam rumah, yang sering membuat rumah menjadi seperti kapal pecah itu. Hanya coretan-coretan di sekujur dinding hasil ‘kreasi’ meraka yang menjadi pelipur kerinduan saya. Rasanya lebih tentram di hati dibandingkan menikmati rumah yang bersih namun hampa tanpa kehadiran mereka.

I love… kapal pecahku, surgaku.

(Visited 1 times, 1 visits today)

2 comments

  1. Hello there! This is my very first reply here so I simply wanted to say a fast shout out and say I really enjoy reading your articles. Can you recommend any other blogs which cover vidmate software? I am as well particularly hooked on that thing! Many thanks!

Leave a Reply

Your email address will not be published.