Family Time

Sabtu Bersama (Alm) Bapak

 

“MU gak kiro teko mrene. Nek sampek mrene, Bapak budhalno koen nang Jakarta, Cung…”

Saya ingat betul kata demi kata dalam kalimat bahasa Suroboyo-an di atas. Itu ucapan almarhum bapak saya yang artinya: “MU nggak mungkin datang ke sini. Kalau sampai ke sini, Bapak berangkatkan kamu ke Jakarta, Nak…”

Sabtu malam itu, saya dan bapak saya sedang berdebat tentang sepak bola sambil menonton pertandingan antara Manchester United (MU) kontra Liverpool di TV. Kebetulan, kami berdua adalah penggemar Liga Inggris. Tapi klub favorit kami berbeda. Saya demen MU, sedangkan bapak saya fanatik Liverpool. Tidak hanya MU dan Liverpool yang sedang bertarung, saya dan bapak saya juga.

Saya berandai-andai MU juga datang ke Indonesia. Dasar ‘seteru’, bapak saya tak mau kalah. Beliau berusaha mementahkan harapan saya melihat MU langsung di Indonesia. “Jangan berharap. Harusnya Liverpool yang ke sini. Kalau nggak bisa ya sudah. Pokoknya jangan MU yang ke sini,” begitu provokasi bapak ke saya.

Hehehe, tentu saja semua itu cuma bercanda. Memang kalau sudah bicara sepak bola, saya dan bapak memang tidak pernah akur. Punya ‘aliran’ berbeda. However, Bapak adalah teman klop saya untuk urusan sepak bola. Beliau orangnya gibol banget. Tak heran sih, karena waktu muda bapak saya adalah pemain bola. Coba lihat foto jadul di atas. Itu adalah foto bapak saya (bertanda “X”) bersama tim PSAD Bhaskara Jaya Surabaya. Foto itu diambil tahun 1960-an. Konon, bapak saya dikenal sebagai bek tangguh. Beliau pun pernah dipanggil membela Persebaya Surabaya, meskipun tidak lama. Itu pasti karena banyak pemain lain yang lebih hebat, hahaha.

***

Yes, akhirnya MU benar-benar MAU datang, hampir empat tahun setelah bapak wafat. Tanggal 20 Juli 2009 adalah hari yang saya nanti. Memang sih saya tidak berangkat ke Jakarta. Cukup nonton di TV, sudah puas kok. Yang penting saya bisa melihat pemain-pemain favorit saya ‘merumput’ di Gelora Bung Karno. Ryan Giggs, Wayne Rooney, Van der Saar, bintang baru Frederico Macheda, plus Michael Owen. Melawan pemain-pemain kita. Wow, SENSASI luar biasa!

Saya teringat perdebatan dengan almarhum bapak kala itu. Saya menang, seharusnya bapak beliin saya tiket nonton MU ke Jakarta, begitu pikir saya. Saya pun tersenyum. Bahkan, saya merasakan mata berkaca-kaca mengenang kebersamaan itu. Atau paling tidak, seandainya bapak saya masih hidup dan ternyata tidak punya uang untuk membayari saya ke Jakarta, ya cukup nonton TV bareng lagi juga tak apa-apa. Meskipun mungkin sepanjang nonton bapak sewot terus gara-gara saya ejek terus.

BLAAAR…!!!

Tak diduga tak dinyana, bagaikan mimpi di pagi bolong. BOM meledak lagi di Jakarta. Hotel Ritz-Carlton danJW Marriot jadi sasaran. Seketika, Indonesia pun MERADANG. Saya tak percaya saat pagi itu melihat kenyataan tersebut di TV. Sedih, sakit. Melihat negara ini yang sudah mulai bangkit dari tragedi-tragedi serupa beberapa tahun lalu, kini harus menangis lagi. Apa kata dunia? Mereka pasti beramai-ramai mengutuki kita lagi 🙁

Dan ternyata almarhum bapak saya benar: MU memang tak pernah datang ke Indonesia.

A husband. A dad. A bank worker. Loves to share in writing about the art of being a dad for the kids.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: